Showing posts with label Muhasabah. Show all posts
Showing posts with label Muhasabah. Show all posts

Sunday, September 25, 2011

Sabar dan Syukur

Alhamdulillah…Alhamdulillah..Alhamdulillah…
Segala puji buatMu ya Allah, atas segala nikmat yang telah kau kurniakan padaku. Kini aku sedar ya Allah, Setiap detik yang berlalu, setiap nafasku kini, adalah rahmatMu..

Astaghfirullahal a’zim…Astaghfirullahal a’zim.. Astahfirullahal a’zim…
Aku memohon keampunanMu ya Allah, atas dosa-dosaku... Dosa yang ku lakukan dalam sedar atau tidak..Sesungguhnya hambaMu ini amat lemah.. Jauhkanlah aku dari mengkufuri nikmatMu ya Allah..

Assalamualaikum w.b.t., salam rindu dari Ummu Atiyah. ^_^ Apa khabar semua pembaca? Setelah sekian lama menyepi tanpa entry baru, Ummu Atiyah kembali dengan semangat baru!

Alhamdulillah, sudahpun selesai menjalani rawatan chemotherapy terakhir bulan lalu. Kini hanya perlu follow-up dari semasa ke semasa untuk monitor level tumour marker di dalam darah saya. Cabaran kini adalah untuk ‘bangkit semula’. Kembali kepada kehidupanku dulu, kembali mencari diriku. Sudah tentu Ummu Atiyah sekarang tak sama 100% seperti Ummu Atiyah dulu. Apa yang telah berlaku selamanya akan meninggalkan kesan dalam jiwa. My only hope is that the experience would make me a better person and not otherwise.

Pengalamanku sebagai pesakit kanser banyak mengajar erti hidup di bumi Allah yang sementara ini. Betapa manusia ini sungguh kerdil. No matter how hard we try to plan our lives, in the end He is the absolute planner.
Sabar dan syukur. Dua perkara ini memainkan peranan yang sangat penting dalam hidupku sejak lima bulan yang lepas, dan pengalaman telah mengajarku erti sebenar kedua-dua perkataan ini.

Dulu aku pernah berjumpa orang yang diuji oleh Allah dengan ujian berat, aku telah memujuknya dgn kata-kata, “Sabarlah… Allah sayang anti, sebab tu Allah pilih anti untuk diuji. Allah nak bagi pahala lebih..”. Kini saat diri sendiri diuji, baru kusedari,bukan mudah mempraktikkannya bila yang diuji itu diri kita. Mudahnya menuturkan ‘sabar’ tapi mempraktikkannya amat sukar. Saat diri lemah, dan air mata tumpah tanpa dipaksa, teringat kembali kata-kata sabar yang kuucapkan pada orang lain… Lalu teringat maksud ayat hafazan satu ketika dulu;

“Wahai orang-orang beriman!mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (As-Saff: 2-3)

Astaghfirullahal A’zim… segera diusapi air mata di pipi… Janganlah sampai dibenci tuhanmu wahai diri.. Kuingat kembali pesan umiku sayang, bila rasa sedih, banyakkan istighfar. Ingat kembali nikmat yang Allah dah beri pada kita dan syukurinya. Benarlah kata umi, kita selalu sedih atas apa yang Allah ambil dari kita, dan lupa untuk bersyukur dengan banyak lagi perkara lain yang Allah dah beri percuma. Yang Allah ambil tu pun hak Dia. Harta, pangkat, hinggalah nyawa ini milik Allah. Jadi aku hanya hilang nikmat kesihatan buat sementara. Tapi aku masih dilimpahi rahmat dan kasihNya, melalui ibu dan ayah yang sangat menyayangiku dan dikurniakan seorang suami yang mencintaiku… aku masih diberi akal yang sihat dan waras, masih mampu berjalan, melihat, mendengar…Masih ada peluang untuk sembuh. Mengingati kembali pemberian Allah inilah antara yang telah menjadi sumber kekuatan diri untuk terus sabar sepanjang diuji dengan rawatan chemotherapy yang begitu lama serta kesan-kesannya yang memeritkan.

Tidak lama setelah selesai chemotherapy, ujian seterusnya tiba. Suamiku harus pergi berjuang. Dia perlu kembali ke Madinah untuk menyambungkan pengajiannya dalam bidang syariah. Perkahwinan yang baru berusia sebulan lebih kini harus melalui ujian perhubungan jarak jauh. Allah sahaja yang tahu apa yang ada di hatiku saat menghantar si dia berlepas di lapangan terbang. Melihatkan bilik yang kosong, dan pakaiannya yang ditinggalkan, air jernih menitis kembali. Sekali lagi pesan umi menjadi peniup semangat. Mengingatkan diriku bahawa si dia pergi berjihad di jalan Allah. Saat merindui si dia, segera berdoa supaya Allah lindunginya, dan merahmati baitul muslim yang terbina hingga ke syurga. Berdoalah pada Allah supaya dia cemerlang dalam pelajarannya, dan dapat pulang dengan selamat. Itulah yang terbaik. Bukanlah sekadar menangisi pemergiannya yang sementara. Bersyukurlah mempunyai suami di bumi barakah, mampu mendoakanku.

Alhamdulillah… Ujian-ujian yang mematangkan. Aku yakin penyusunan Allah ini ada hikmahnya. Mungkin Allah sedang menyediakan aku untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar dan berat selepas ini. Jadi jiwaku haruslah kuat. Dan ujian-ujian hidup ini mampu menguatkan jiwa dengan izinNya. Kini aku kembali menyambung pengajian yang masih berbaki dua tahun. Mohon doa para pembaca mengiringi perjuangan ini. Semoga hidup kita sentiasa dihiasi sifat sabar dan syukur…

Saturday, September 17, 2011

When you went away

When you first went away
A hole was left in me
Everything was not the way
The way it used to be

Though I know it is destined
And you are where you should be
My heart still aches and bleeds
Coz you’re a part of me

But soon I realized
That we each have a mission
To complete, fulfill and abide
The responsibilities Allah had given

Now the world shall be a witness
Of a love story so grand and great
Coz we had chosen Allah as first
To save and protect our faith

So I’ll be waiting here, my dear,
Knowing I’ll see your smile
On the day that you appear
Coz you know that I am fine

By: Ummu Atiyah

For my beloved husband amirfathirah who is currently studying Syariah in Islamic University of Medina...May Allah protect you always...

Friday, September 16, 2011

Bring back your smile




The tempest has blown over,
Dark dreams have all died down.
It’s time to turn the four leaf clover
And rid you of that frown

Your happiness is like a dove.
That soars through heavens wide
Go spread your care and love
That your heart kept deep inside


Your smile, it lights the world
A precious gift to those who care
It tells us that you’re ready
To face the world out there

Take it slow and steady
Don’t rush back to the race
Be sure you’re fit and ready
Just fall in at your own pace

Fight back your inner fears
Even though it’ll take a while
Take back those dreadful tears
Bring back that cheerful smile

By: Abah

My dad wrote this poem for me when I was fighting post chemotherapy depression, one of the side effects that we initially had underestimated. It took me a while to overcome it, and still trying my best to find back myself, and perhaps a better person than before...I am blessed with a very loving and understanding family and friends.. Syukran everyone..

Saturday, July 30, 2011

Ahlan ya Ramadhan...

Ramadhan merupakan tetamu agung yang sentiasa kita harapkan kedatangannya. Kerana itu, tentu kita awal-awal lagi sudah mempersiapkan diri untuk menyambutnya. Sudah kita ketahui bersama, bahawa manusia tidak akan melaksanakan sesuatu dengan baik kecuali jika ia mempersiapkan diri dengan baik pula. Begitupun agar kita mampu melaksanakan semua amalan di bulan Ramadhan; sangat penting kita mempersiapkan diri untuk itu. Keberhasilan kita pada bulan Ramadhan akan dipengaruhi sejauh mana kita mempersiapkan diri untuk menyambutnya.


Rasulullah saw dan para Sahabat sangat bersemangat menyambut datangnya bulan Ramadhan. Mereka sangat serius mempersiapkan diri agar bisa memasuki bulan Ramadhan dan melakukan segala amalan di dalamnya dengan penuh keimanan, keikhlasan, semangat, giat dan tidak merasakannya sebagai beban.


Berbagai persiapan dilakukan untuk menyambut Ramadhan, tamu yang istimewa ini. Persiapan penting yang harus kita lakukan adalah persiapan mental dan ilmu. Mempersiapkan diri secara mental tidak lain adalah mempersiapkan ruhiah kita serta membangkitkan suasana keimanan dan memupuk spirit ketakwaan kita. Cara paling manjur adalah dengan memperbanyak amal ibadah. Dalam hal ini, Rasulullah saw. telah memberikan contoh kepada kita semua. Nabi saw. memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban. Ummul Mukminin Aisyah ra. menuturkan:



Aku tidak melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh kecuali Ramadhan dan aku tidak melihat Beliau lebih banyak berpuasa dibandingkan dengan pada bulan Sya’ban (HR al-Bukhari dan Muslim).
Bahkan Rasulullah saw. menyambung puasa pada bulan Sya’ban itu dengan puasa Ramadhan. Ummul Mukminin Aisyah ra. menuturkan:
Bulan yang paling Rasul saw. sukai untuk berpuasa di dalamnya adalah Sya’ban, kemudian Beliau menyambungnya dengan (puasa) Ramadhan. (HR Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ahmad).

Beberapa hadis di atas menjelaskan bahwa Rasulullah saw. banyak berpuasa pada bulan Sya’ban. Puasa pada bulan Sya’ban itu demikian penting dan memiliki keutamaan yang besar daripada puasa pada bulan lainnya, tentu selain bulan Ramadhan. Sedemikian penting dan utamanya sampai ‘Imran bin Hushain menuturkan, bahwa Rasul saw. pernah bertanya kepada seorang Sahabat:
“Apakah engkau berpuasa pada akhir bulan ini (yakni Sya’ban)?” Laki-laki itu menjawab, “Tidak.” Lalu Rasulullah saw. bersabda kepadanya, “Jika engkau telah selesai menunaikan puasa Ramadhan, maka berpuasalah dua hari sebagai gantinya.” (HR Muslim).
Hadis di atas menunjukkan dengan jelas keutamaan puasa sunnah pada bulan Sya’ban. Lalu apa hikmah dari puasa pada bulan Sya’ban itu?
Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Rasulullah saw.:
“Ya Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa pada bulan-bulan lain seperti engkau berpuasa pada bulan Sya’ban.” Rasul menjawab, “Bulan itu (Sya’ban) adalah bulan yang dilupakan oleh manusia, yaitu bulan di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan itu adalah bulan diangkatnya amal-amal manusia kepada Tuhan semesta alam. Aku suka amal-amalku diangkat, sementara aku sedang berpuasa.” (HR Abu Dawud dan an-Nasa’i; disahihkan oleh Ibn Khuzaimah).
Rasul saw. juga memposisikan puasa pada bulan Sya’ban itu sebagai persiapan untuk menjalani Ramadhan. Anas ra. menuturkan bahwa Nabi saw. pernah ditanya:
“Puasa manakah yang paling afdhal setelah puasa Ramadhan?” Rasul menjawab, “Puasa Sya’ban untuk mengagungkan Ramadhan.” (HR at-Tirmidzi).
Walhasil, puasa Sya’ban, di samping akan mendapatkan pahala yang besar dan keutamaan di sisi Allah, juga merupakan sarana latihan guna menyongsong datangnya Ramadhan. Al-Hafizh Ibn Rajab mengatakan, “Dikatakan tentang puasa pada bulan Sya’ban, bahwa puasa seseorang pada bulan itu merupakan latihan untuk menjalani puasa Ramadhan.
Hal itu agar ia memasuki puasa Ramadhan tidak dengan berat dan beban. Sebaliknya, dengan puasa Sya’ban, ia telah terlatih dan terbiasa melakukan puasa. Dengan puasa Sya’ban sebelumnya, ia telah menemukan lezat dan nikmatnya berpuasa. Dengan begitu, ia akan memasuki puasa Ramadhan dengan kuat, giat dan semangat.”
Para ulama salaf dulu sangat memperhatikan pelaksanaan semua amalan-amalan kebaikan pada bulan Sya’ban. Mereka, sejak memasuki bulan Sya’ban, telah memperbanyak membaca al-Quran, menelaah dan memahami isinya dan mentadabburi kandungannya. Bahkan Habib ibn Abi Tsabit, Salamah bin Kahil dan yang lain menyebut bulan Sya’ban ini sebagai Syahr al-Qurâ.
Bulan Sya’ban, Saatnya Intropeksi Diri
Marilah kita gunakan bulan Sya’ban ini untuk instrospeksi diri; sejauh mana kita telah bertindak dan bermuamalah sesuai dengan syariah yang telah Allah turunkan. Sudahkah kita pada bulan ini bergegas mempersiapkan diri guna menyambut datangnya Ramadhan yang sebentar lagi akan tiba? Ataukah kita malah termasuk orang yang melupakan bulan penting ini sebagaimana yang disinggung oleh Rasul saw. dalam hadis di atas?
Saatnyalah kita segera mempersiapkan diri sendiri, keluarga dan orang-orang yang ada di sekitar kita guna menyongsong datangnya Ramadhan. Caranya adalah dengan memperbanyak puasa serta membaca al-Quran sekaligus menelaah, memahami dan mentadabburi kandungannya.
Kita juga harus giat melakukan shalat malam serta memperbanyak sedekah dan amalan-amalan kebaikan lainnya. Agar kita nanti mampu menjalani Ramadhan dengan penuh makna, hendaknya kita pun menyiapkan program-program amal kebaikan yang akan kita lakukan selama bulan Ramadhan.
Lebih dari itu, bulan Ramadhan adalah bulan ketaatan; di dalamnya setiap Muslim dituntut untuk mengikatkan diri dengan seluruh syariah-Nya. Bulan Ramadhan adalah bulan murâqabah. Sebab, shaum yang dilakukan di dalamnya mengajari setiap Muslim untuk senantiasa merasa diawasi Allah.
Ramadhan juga adalah bulan pengorbanan di jalan Allah. Di dalamnya setiap Muslim dituntut untuk berkorban dengan menahan rasa lapar dan haus demi meraih derajat ketakwaan kepada-Nya. Takwa adalah puncak pencapaian ibadah shaum pada bulan Ramadhan. Perwujudan takwa secara individu tidak lain adalah dengan melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya.
Adapun perwujudan takwa secara kolektif adalah dengan menerapkan syariah Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan oleh seluruh kaum Muslim. Shaum Ramadhan tentu akan kurang bermakna jika tidak ditindaklanjuti oleh pelaksanaan syariah secara total dalam kehidupan, karena itulah wujud ketakwaan yang hakiki.
Terakhir, guna menambah kerinduan dan semangat kita mempersiapkan diri menyongsong Ramadhan, hendaklah kita mengingat dan merenungkan kembali pesan-pesan Rasul saw. yang pernah Beliau sampaikan pada akhir bulan Sya’ban. Salman al-Farisi menuturkan, bahwa Rasulullah saw. pernah berkhutbah pada akhir bulan Syaban demikian:
Wahai manusia, kalian telah dinaungi bulan yang agung, bulan penuh berkah, bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah telah menjadikan puasa pada bulan itu sebagai suatu kewajiban dan shalat malamnya sebagai sunnah. Siapa saja yang ber-taqarrub di dalamnya dengan sebuah kebajikan, ia seperti melaksanakan kewajiban pada bulan yang lain. Siapa saja yang melaksanakan satu kewajiban di dalamnya, ia seperti melaksanakan 70 kewajiban pada bulan lainnya.
Bulan Ramadhan adalah bulan sabar; sabar pahalanya adalah surga. Ia juga bulan pelipur lara dan ditambahnya rezeki seorang Mukmin. Siapa saja yang memberikan makanan untuk berbuka kepada orang yang berpuasa, ia akan diampuni dosa-dosanya dan dibebaskan lehernya dari api neraka. Ia akan mendapatkan pahala orang itu tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.
Para Sahabat berkata, “Kami tidak memiliki sesuatu untuk memberi makan orang yang berpuasa puasa?”
Rasulullah saw. menjawab:
Allah akan memberikan pahala kepada orang yang memberi makan untuk orang yang berbuka berpuasa meski dia hanya memberi sebutir kurma, seteguk air minum atau setelapak susu.
Ramadhan adalah bulan yang awalnya adalah rahmah, pertengahannya adalah maghfirah dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka. Siapa saja yang meringankan hamba sahayanya, Allah akan mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka. Perbanyaklah pada dalam Ramadhan empat perkara, dua perkara yang Tuhan ridhai dan dua perkara yang kalian butuhkan. Dua perkara yang Tuhan ridhai adalah kesaksian Lâ ilâha illâ Allâh Muhammad Rasûlullâh dan permohonan ampunan kalian kepada-Nya. Adapun dua perkara yang kalian butuhkan adalah: kalian meminta kepada Allah surga dan berlindung kepada-Nya dari api neraka. (HR Ibn Khuzaimah dalam Shahih Ibn Khuzaimah dan al-Baihaqi di dalam Syu’âb al-Imân).



(Source:http://www.eramuslim.com)

Friday, July 8, 2011

The True Meaning of Strength


Every cancer patient is a fighter. What do you understand from this simple statement? Cancer patients have to be 'strong' in fighting their disease to increase their chance of survival and recovery. Back when I was apparently healthy, as I meet and mingle with them in the wards on a daily basis (both the treatable and the terminally ill), during my previous study years, I have spent time wondering what it meant to be 'strong' for them. When I myself was diagnosed with it, I told myself to be 'strong'. But, what does that mean really? What are the obstacles that I will be facing? I was not clear. I'm sure most of you reading this are not clear as well, unless you're a cancer survivor. With this in mind, I wrote this entry. I hope it will be beneficial, especially to those who are newly diagnosed with cancer, to be mentally prepared as they embark on the journey to recovery. Also to those who have family members or close friends facing the same thing, I hope that by reading this, you will understand more about what they are facing, and thus treat them appropriately.

The Effects

I read in an article once about chemotherapy. It was regarded by some as a 'Necessary Evil'. My understanding of this becomes clearer day by day. As the 'poison' seeps through the vessels of my fragile body attacking the unwanted cancer cells, some normal innocent cells had to die too. Like hair cells, and mucosal cells, they were among the martyrs, causing effects such as numbness of taste buds, mouth ulcers, and unavoidable hair loss. Other cells like muscle cells, though they don’t really die, but I could imagine how they felt as the cytotoxic chemicals flow through them, they would be petrified, causing me to have muscle cramps, especially at night. There were days where I would feel as If I had just woken up from sleeping after running a 5km marathon without pre-marathon stretching. There are times; I would suddenly feel warm, and feverish to the point of sweating. Other times, I felt chills, to the point of shivering. As the drug flow through my higher centers (Brain and spinal cord), the platinum-based chemo drug tickles my 'vomiting center', causing me to be nauseous most of the time. All of these sums up and portrays itself as a group of symptoms called chemotherapy effects.

Sounds scary aren't they? But do not fear. These effects will not be so profound if you know how to deal with them. After a few weeks undergoing treatment, I have formulated ways in dealing with these effects. It is done through personal observation, and the help of fellow cancer patients and survivors. For easy reference, I have listed them accordingly.

Get a Good Knowledge on Your Condition

Once the doctors have established the diagnosis, read up about it. It will help you in having a clearer picture of your condition, its risks, its prognosis, and most importantly, the treatment. This will help you understand the situation, what chemo regime the doctor will be giving you, its importance, and its effects. You will be more prepared if you know what you will be dealing with, and you'll be able to pull through the chemo despite the effects, if you know the importance.  


Know Your Enemy



You must know who your real enemies are. They are not the symptoms, because these are unavoidable. No point to be stressed for something that will happen eventually right? You'll just end up frustrated. The effects will appear with time, but what we can do is minimize it. Our real enemy is our minds. Our mental strength is what truly matters. With a strong mental strength, our physical well being will improve too, InsyaAllah.

Never Fear, for Allah Is Always With You

There will be times when you feel that the pain is becoming too much. Have faith that for every pain that you had to endure, Allah cleanses your soul. Remember this, and remember of all the sins you had done before. Endure it with istighfar for the benefit of the hereafter, insyaAllah, you'll pull through. 

Coping With the Chemo Effects

When you start to have the symptoms, find ways to fight it off. There are many methods. I'll share with you mine, but you may try finding the best method that suits you.

The Nausea

It is uncomfortable, no doubt. But don’t let yourself suffer, find the alternative cure. For me, I take sips of sugarless citrus and berry juices whenever I feel nauseous. Fresh oranges and warm lemonade helps too. Not only it alleviates the nausea, the rich vitamin C helps strengthen your immune system, thus overcome the bone marrow depression effect. Never resort yourself to artificially preserved fruits (Asam). It is harmful not just to you, but even to a normal healthy person.


Numbness of Taste and Oral Ulcers

Most chemo drugs are neurotoxic, as well as it kills fast growing cells. Since buccal mucosa ( Cells in the inner lining of mouth ) are fast growing epithelial cells, it tends to thin out. That is when you get ulcers. The key to minimize this is hydration. So, drink lots of plain mineral water. Better to drink bottled mineral water instead of boiled tap water. It is cleaner and contain minerals that is good for you. Another way to lessen the pain is by taking cold beverages and eating ice cream! Nyum2…^_^

Your taste buds will also be less sensitive, so you will suddenly find food becoming tasteless even though in reality, it is not. To overcome this, try eating strongly flavored foods, like curry, or tom yam. It helps to increase your appetite. But if it is difficult to find food that suits your taste, ignore the tasting part and eat up. Remember that your body needs the energy to fight cancer.

Loss of Appetite

This happens as a result of the nausea + tastelessness + Oral ulcers + the other effects. When your body is in pain, your appetite will be decreased. It is a normal mechanism. But you must never succumb to this! As I mentioned before, your body needs food for energy to fight cancer. So, whenever you feel like eating something, as long as it is not harmful to you, find it and eat it. Family members should be understanding and creative when it comes to food for cancer patients. If possible, try to make every meal enjoyable. If you cannot find your appetite, eat up anyway. Blend it and juice it for easy swallowing if you cannot chew, and don’t bother the taste. Eat lots of fruits and vegetables. Say NO to processed foods. Read up on foods that should be avoided for cancer. There are many theories. But for me, I choose to avoid only red meat, chicken, shellfish, soy products, and processed foods.

Muscle Cramps

This will occur sometimes, especially at night. Overcome this by massaging with medicated ointments on the affected site, and cover up when you sleep. Wearing socks helps. Shower with warm water if possible because cold showers worsen the effect.

Fatigue

This is quite subjective. But basically, you know yourself better than anyone. Try not to exert yourself to much, but do not resort to sedentary lifestyle. You may do low impact workouts and do household chores to keep your heart healthy. Avoid heavy lifting. Whenever you start feeling tired, take a rest. Afternoon nap helps.

Headache

This may occur to some patients more often than to others, possibly due to dehydration or electrolyte imbalance. Try drinking lots of water and take a nap. If all means fail, you may take paracetamol.

Hot Flushes

If possible, your room should be air conditioned. So, whenever you start feeling warm, lower the room temperature. If not, get a table fan, and wear minimal or lose cotton clothing when you sleep.

Chills and Rigors (Cold and Shivering)

The opposite of the above effect, this time, keep yourself warm. Apply warm ointments. Drink warm lemonade. Sleep with a blanket. Avoid cold showers.

Immunosuppression

Some chemo drug has the effect of bone marrow suppression. This causes your immunity to drop. This means that you are easily infected by surrounding germs. This is bad for you, not just because of the illness, but when you are sick, your chemo will be postponed! That means longer treatment period. Not Good. So, to avoid getting sick easily, you should minimize your time outside the house. However, you may go out with proper protection like a face mask. I chose to wear a 'niqab' instead. That way, you do not look like you are sick, but at the same time you have good protection. Plus, extra coverage for muslimah.

Hair Loss

Though not physically painful, this effect gives impact more emotionally especially for women because hair is an asset for them. For this, we have to be strong. Be assured that your hair will grow back. In fact, it will grow healthier and more beautiful. Should you shave? This depends on you. Some patients just cut their hair very short, and let it fall freely. But for me, it is easier to shave, so I spare myself the agony of seeing my hair scattered everywhere. But don’t shave so soon, because your hair won't be falling until a few weeks after your first chemo, IF your drug has this effect. Some lucky patients are spared from this effect. So, before you chose to shave, make sure your hair really is falling. It will start with your head feeling heavy, and your scalp starts having small slightly painful nodules ( This is when the drug attacks your hair roots), before your hair starts falling. Don’t be scared. It is common among cancer patients to have a bald head. You are not alone.
  
Depression

This is the worst of the effects. Good thing is, the severity depends on how you deal with it. This is when your faith in religion plays a very important role. For muslims, remember that Allah won't burden you beyond your capability to cope. You are the chosen one, the precious servant that He chose to be tested. Heavens awaits those who pass His tests. Quran, solah, and dua' are your weapons against depression. If you feel down, crying helps. Go where you can be alone with Him, and let your tears fall, washing away the burden you are feeling in your heart. He knows what you are going through better than anyone, and He listens.

That is all for now. A message to you fellow fighters, do not be scared of chemotherapy. It is not so bad if we know how to cope with it. Take this experience as a stepping stone to be a better you. Later you can proudly say, "I am a cancer survivor". With willpower and Allah's guidance, we will pull through, insyaAllah…

Wednesday, June 29, 2011

CHARGE!


During my first week of radiology,
i got a bad case of the sniffles,
but my little sister's gone through surgery,
compared to her, my troubles just fizzles.

Entering my second week of radiology,
i spent half a day everyday standing till my feet swell,
but my little sister's laying in bed with stitches in her tummy,
spending all her day everyday feeling not-so-well.

On to my third week of radiology,
my daily ritual standings took a toll on my lower back, see?
but little sister's undergoing her first cycle of chemotherapy,
if she can still smile happily, how can i not be?

By: Abg Ngah (Final Year, Fakultas Kedokteran Andalas, Padang)

You can do it brother! I'll always pray that we both will one day be excellent medical practitioners, make umi and abah proud, and serve islam till shaheed takes us... ^_^ Just completed my first cycle of chemo, a little nauseous, that's all...

Sunday, June 26, 2011

When tears fall



When tears fall ...
each time you feel the strain ...
those who love you ...
will feel that extra pain.
Oh how hearts are crushed ...
when we see you cry.
Though we know ...
that you are strong,
we can't help but share ...
every moment of your agony,
every second of your strain
as we watch you haplessly
fighting the lonely battle.
BUT!
When you smile away your fears,
our fears will melt away too!

Written by: Abah

I accidentally cried in front of my parents a few weeks ago. It was'nt really my intention. But the tears just fell, for no obvious reasons...Huhu. Then Abah wrote another poem for me. I'm sorry Abah...I'm sorry umi...If sometimes I let my tears fall.. I guess no matter how hard I tried to put a strong face in front of you both, In the end I'm still just your baby girl.. Hehe.. kadang-kadang saja nak bermanja dengan umi abah je...Umi abah jangan risau ye....Ummu kuat sebab Allah ada... Allah ada di sisi kita, every step of the way....^_^

Friday, June 10, 2011

Bersedia untuk Chemotherapy! ^_^

Assalamualaikum kepada para pembaca. Semoga kita semua tidak lupa untuk bersyukur atas segala nikmat pemberian Allah pada kita. Nikmat yang tak mungkin dapat kita hitung. Semoga Allah beri kita kemampuan untuk melihat segala perkara yang berlaku dalam hidup dari sudut tarbawi dan positif, dan dapat mendekatkan diri kita padaNya, tidak kira ia baik atau buruk.

Hmm...Chemotherapy. Perkataan yang menakutkan. Bagi yang belum tahu maksudnya, 'chemotherapy' atau 'kemoterapi' dalam bahasa melayu, adalah gabungan perkataan 'chemical' yang bermaksud 'bahan kimia', dengan 'therapy' yang bermaksud 'rawatan'. Ia adalah sejenis bentuk rawatan perubatan yang menggunakan bahan-bahan kimia tertentu yang disalurkan ke dalam badan melalui salur darah, atau suntikan dalam otot, atau bawah kulit, pada dos tertentu. Ia merupakan antara rawatan rutin bagi pesakit kanser.

Terdapat beribu-ribu jenis bahan kimia yang digunakan dalam 'cancer chemotherapy'. Disebabkan bahan-bahan tersebut secara kimianya mampu bertindak membunuh sel-sel badan manusia, hampir kesemuanya mempunyai kesan-kesan sampingan yang ketara. Pemilihan jenis dan dos bahan kimia yang akan digunakan bergantung kepada jenis dan keseriusan tahap kanser tersebut.

Alhamdulillah. Allah telah pilih saya untuk melalui pengalaman baru lagi. Selepas kajian cytology dibuat atas ketumbuhan yang dibedah kali lepas, doktor berpendapat saya harus jalani rawatan kemoterapi sebanyak empat cycle. Setiap satu cycle tempohnya tiga minggu. Jadi, jumlah tempoh rawatan kemoterapi yang bakal saya jalani ialah tiga bulan. Bermula minggu depan, saya bakal jalani chemotherapy menggunakan 'regime BEP', yang membawa maksud gabungan tiga jenis bahan kimia. Bleomycin, Ethopoxide, dan Cisplatin.

Mendapat berita perlu jalani rawatan chemotherapy ini, tidak mengejutkan saya. Saya sudah dapat jangkakan. Mulanya, memang saya agak takut. Ini kerana, saya tidak dapat bayangkan apa yang akan berlaku dan bagaimanakah tubuh saya akan bertindakbalas. Fear of the unknown, memang sukar dielakkan. Kebanyakan orang merasakan chemotherapy itu sesuatu yang dasyat dan menyakitkan. Saya tidak terkecuali. Malah, antara sebab utama pesakit kanser melarikan diri dari menjalani rawatan kerana takutkan kepada chemotherapy. Tindakan mereka mencari rawatan alternatif dan meninggalkan terus rawatan konvensional menyebabkan banyak kes dimana pesakit kanser yang menghidap kanser peringkat awal pada mulanya, akhirnya merebak ke peringkat lebih tinggi hingga tidak dapat diselamatkan lagi.

Namun, kini saya pilih untuk tidak berasa takut, kerana tiada faedahnya untuk takut. Perasaan takut boleh memusnahkan diri seseorang. Saya yakin kebanyakan mereka yang takut itu berasa takut kerana tidak cukup maklumat mengenai perkara itu. Mereka takutkan sesuatu yang tidak pasti. Maka, saya mula membaca pelbagai artikel berkaitan chemotherapy. Saya cuba memandang keadaan ini dari sudut positif. Saya diberitahu oleh beberapa orang doktor bahawa ubat-ubatan chemo yang bakal saya ambil ini dalam kategori yang agak kuat. Dan kesan-kesan sampingannya juga ketara, antaranya keguguran rambut, perubahan warna jari kepada kehitaman, loya dan muntah-muntah, lemah badan, dan rendah imuniti badan.

Imej diri saya yang botak dan lemah muncul dalam fikiran. Teruk sangatkah keadaan itu? Saya teringat pengalaman saya semasa belajar dulu, saya pernah berkenalan dengan seorang pesakit kanser, umurnya hampir sebaya dengan saya, menghidapi 'Hodgkin's Lymphoma', sejenis kanser darah putih. Rupa luarannya begitulah. Tapi dia sentiasa tersenyum, dan positif dengan keadaan dirinya. Saya ingin jadi begitu juga. Ada berjuta-juta orang di dunia ini pernah dan sedang jalani rawatan chemoteraphy. Mereka boleh laluinya dengan baik, malah ada yang dapat kembali sembuh seperti sediakala. Mereka boleh lakukannya, tentu saya juga mampu!

Saya anggap pengalaman ini sesuatu yang sangat berharga. Saya bertuah terpilih antara semua rakan sekelas saya yang lain, untuk lalui pengalaman ini. Allah nak beri saya rasa bagaimana menjadi seorang pesakit kanser, supaya saya dapat menjadi seorang doktor yang lebih baik nanti. Mohon doa para pembaca untuk mengiringi perjuangan saya. Semoga Allah beri kekuatan...Wallahua'lam.   

Thursday, May 19, 2011

Indahnya Kematian...

Sejak saya disyaki menghidap kanser, ramai sahabat, kenalan rapat, dekan dan pensyarah universiti, ahli keluarga, rakan-rakan umi dan abah, jauh dan dekat, datang menziarahi saya tidak kira di hospital mahupun ketika sudah pulang ke rumah. Bersama mereka yg datang, ada yang menimbulkan kisah-kisah tentang kenalan-kenalan mereka yang menghidap kanser. Saya yakin, tujuan mereka bukanlah menakutkan saya yang sedang bertarung dengan perkara yang sama, tetapi lebih kepada ingin berkongsi cerita tentang perjalanan hidup dan kesudahan yang terjadi kepada penghidap-penghidap kanser tersebut.


Benar, banyak juga iktibar dan pengajaran yang boleh di ambil dari kisah-kisah itu. Tetapi, saya boleh katakan majoriti kisah-kisah mereka berakhir dengan kematian. Ini membuatkan saya sendiri merasa kematian begitu dekat dengan diri ini. Pada mulanya saya diberitakan tentang penyakit yang dihidapi, doktor telah meyakinkan saya bahawa penyakit saya ini ada lebih 80% peluang untuk sembuh sepenuhnya. Mulanya, saya berasa agak tenang. Tetapi, bila difikirkan semula, ada lagi 20% yang akan berakhir dengan kematian. Jadi, saya tidak seharusnya begitu yakin yang saya akan tergolong dalam 80% itu.

Ada ketikanya timbul perasaan risau dalam diri ini. Saya cuba menahan nafas seberapa lama yang boleh, sakitnya dada tidak tertahan, terpaksa dihirup kembali udara Allah...jadi, bagaimanakah rasanya Mati? Jika setakat menahan nafas pun sudah tak tertahan? Apabila saya terbayang betapa sakitnya sakaratul maut, dan bagaimana agaknya Allah s.w.t ingin menghentikan nafasku dan degupan jantungku, jiwa diruntun rasa takut...patutkah rasa takut? Ya...saya takut. Bukan sahaja saya takut akan kesakitan sakaratul maut itu, tetapi yang utama adalah apa yang menanti selepas itu. Kerana bagi setiap yang bernyawa, mati itu pasti. Setiap yang bernyawa akan ada peluang masing-masing untuk merasai sakitnya mati, pada waktu yang pasti, tidak berubah walau sedetik dari ketentuan ajalnya. Dengan keadaan itu, manusia tiada upaya. Apa yang saya lebih takutkan adalah persediaan diri saya untuk menghadapi alam selepas kematian. Alam barzakh, dan akhirat yang pasti.

Apabila memikirkan keadaan diri yang ada 20% peluang untuk menghadapi kematian, (hanya secara logika matematik, saya tahu ajal akan menjemput sesiapapun bila tiba masanya walaupun ketika dia dalam keadaan sihat), semakin terasa diri ini belum bersedia menerima kematian dengan senyuman. Seperti para syuhada' yang gugur di medan jihad...mereka pergi dengan tenang dan tersenyum...disambut bau haruman syurga, dan tangan-tangan halus para bidadari...terasa diri begitu kerdil...begitu jauh dari mereka...Mampukah saya menghadapi kematian dalam keadaan serupa? Dengan amalan yang tidak sebanyak mana? dengan jiwa yang masih dinodai karat-karat jahiliyah? Astaghfirullahala'zim...Ampunilah dosa-dosa hambaMu ini ya Allah...Aku tidak mungkin masuk apatah lagi menghidu bau syurga melainkan dengan rahmat dan redhaMu...

Hati diruntun rasa ingin tahu yang kuat. Bagaimanakah caranya ingin merasai indahnya mati? Dan bukan merasa risau dan takut? Dengan izin Allah, satu hari, umiku sayang menghulurkan sebuah buku. Buku itu muka hadapannya menunjukkan gambar pemandangan, tetapi bila diteliti, rupanya ia dari perspektif seseorang yang sedang berada di liang lahad. Namun, disebalik lubang tanah yang dalam itu, terdapat pemandangan yang indah. Menarik design covernya. Tajuknya lagi menarik. "Indahnya Kematian", nukilan seorang penulis dari yogjakarta, indonesia, bernama Bisri M.Djaelani. Menarik sungguh buku ini. Saya membuka beberapa helain pertama, membaca prakata dan sinopsisnya.

Alhamdulillah. Allah memberi ilham pada umi untuk membelikan buku ini. Ia membicarakan tentang cara-cara, berpandukan Al-Quran dan As-sunnah, untuk seseorang mukmin memperoleh 'Husnul Khatimah'... pengakhiran yang baik. Gaya bahasa yang santai dan mudah difahami, penceritaannya disulami kisah-kisah sirah yang penuh iktibar dan teladan... juga menceritakan apa yang menanti kita selepas kematian.. Ia juga bukan sekadar cakap-cakap kosong, tetapi adalah hasil rujukan dari kitab-kitab tulisan para ulama' mu'tabar... Kini, saya dalam proses mengkhatamkan buku ini. Mungkin di lain waktu saya akan berkongsi dengan anda intipatinya. Semoga saya, dan anda, juga memperoleh 'Husnul khatimah', insyaAllah....